1. Latar belakang kasus :
Sebanyak 204 juta data pemilih disebut bocor dan dijual peretas. Akun anonim “Jimbo” mengeklaim telah meretas situs kpu.go.id dan berhasil mendapatkan data pemilih dari situs tersebut. Ia mengeklaim menguasai 204 juta data pemilih dan membagikan 500.000 sampel di situs BreachForums – situs yang biasa digunakan peretas menjual data curian.
Data ini berisi keterangan nama lengkap, Nomor Induk Kependudukan (NIK), Nomor Kartu Keluarga, Nomor KTP (berisi nomor paspor untuk pemilih di luar negeri), jenis kelamin, tanggal lahir, status pernikahan, alamat lengkap, serta kodefikasi Tempat Pemungutan Suara (TPS).
2. Mengapa kebocoran data ini berbahaya:
Peneliti dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Annisa N Hayati menilai kebocoran data ini bisa menimbulkan penyalahgunaan data seperti disinformasi.
"Semakin banyak data yang dikumpulkan tentang pemilih, maka semakin meyakinkan panggilan palsu, pesan teks, atau email tentang individu dan koneksi sosial mereka," kata Annisa.
"Kebocoran data pemilu dapat mengakibatkan hak seseorang dalam mengungkapkan ekspresi serta pilihan politiknya terlanggar," jelas Annisa.
Dampak dari dugaan kebocoran data dari situs KPU ini, lanjutnya, juga bisa menurunkan tingkat kepercayaan publik pada penyelenggara pemilu, "sehingga dapat berdampak ke legitimasi pemilu yang ikut berkurang".
1. Kehilangan perangkat fisik
Kehilangan perangkat fisik, terutama karena pencurian, menjadi salah satu penyebab data rawan bocor. Hal yang satu ini biasanya dikategorikan sebagai kasus yang disengaja dan berbahaya. Sebab dokumen rahasia akan mudah diakses oleh pencuri dan membuat kasusnya sulit ditangani.
2. Phising
Melansir ifflab, phising berkontribusi pada 43% kebocoran data di seluruh dunia. Sering kali, orang terkecoh dengan penyebab yang satu ini. Misalnya, saat tidak berhati-hati mengklik tautan tak dikenal atau spam tautan berbahaya yang berujung pada bocornya data ke pihak tak bertanggung jawab.
3. Kesalahan Manusia (Human Error)
Penyebab satu ini jadi alasan yang sering ditemui sekali ditemui. Statistik mengungkap lebih dari setengah pelanggaran data disebabkan kesalahan manusia yang tidak disengaja atau tanpa bermaksud jahat. Misalnya, mengirim email ke penerima yang salah, kehilangan dokumen, atau memberikan akses aplikasi tanpa memahami risiko yang mungkin harus dihadapi.
3. Hal yang dapat dilakukan agar data aman
1. Memastikan data terenkripsi
Setiap situs memiliki sistem keamanan enkripsi untuk memastikan data terkode dengan amat saat dikirimkan lewat situs website.
2. Berhati-hati saat menggunakan jaringan Wi-Fi
Jaringan Wi-Fi ini bisa disalah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk mencuri data pribadi. Biasanya menggunakan access point palsu yang jika seseorang login maka data pribadinya akan tercuri. Hindarilah access point yang berpotensi meminta username, password, dan informasi pribadi lainnya.
3. Waspadai tautan phising
Saat ini banyak sekali tautan (link) yang mengatasnamakan instansi atau organisasi. Dalam beberapa kasus, link tersebut dapat mengarahkan ke halaman login palsu sebagai jebakan dan mencuri data pribadi.
4. Gunakan password yang sulit ditebak
Password atau kata sandi adalah hal yang paling penting dalam akses login. Oleh karena itu, gunakanlah kata sandi yang sulit untuk ditebak. Hindari penggunaan kata sandi menggunakan tanggal lahir ataupun nama. Selain itu, ganti kata sandi setiap tiga bulan sekali.
5. Gunakan mode Incognito ketika berselancar
Saat berselancar di internet, gunakanlah mode Incognito (penyamaran). Saat ini kebanyakan browser canggih sudah memiliki mode ini. Di dalam mode ini akan mematikan perekaman data ketika browsing. Browser tidak akan merekam alamat situs dan laman yang telah dikunjungi. Browser juga tidak dapat merekam datapribadi, seperti nama pengguna untuk login, password, juga cache dan cookies dari situs web yang dikunjungi.
4. Hal yang dilakukan untuk mengamankan konten dari kebocoran data
1. Situs Web dan Platform Online yang Aman:
Memastikan situs web dan platform bisnis aman dari metode umum yang digunakan oleh pengguna internet untuk membajak konten, seperti teknologi berbagi file.
2.Watermarking dan Keamanan Konten:
Menanamkan watermark, baik yang terlihat maupun tidak terlihat, ke dalam konten digital membantu melacak distribusi yang tidak sah.
3. Pantau Internet Secara Teratur:
Konten kreator harus menggunakan alat yang memindai internet untuk mencari salinan konten mereka yang tidak sah
4. Terapkan Kontrol Akses yang Kuat:
Batasi akses ke data dan konten sensitif.
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cgxpk9k3ye5o
